Ketika Mentalmu dijatuhkan
Ketika Mentalmu dijatuhkan
Separuh Nyawa
Bahagia yang aku tunjukkan pada kalian, mungkin sebuah cara
aku menghibur diriku sendiri. Tidak mudah membahagiakan hatiku sendiri dengan
semua kondisi yang telah terjadi. Banyak petuah yang tak bisa aku resapi, namun
terus didekte untuk aku percayai.
Orang-orang mengatakan kepadaku,
“Lihat aku! Aku
seperti ini dan kamu tidak sepertiku, seharusnya kamu lebih bersyukur”
Aku mendengarkanmu, tapi kita punya kisah masing-masing,
mungkin aku tidak bisa menjadi sepertimu dan sebaliknya, kamu mungkin juga
tidak bisa sepertiku.
Intinya bukan tentang masalah bersyukur atau mengingkari nikmat. Aku hanya mengucapkan sebuah harapan
dengan awalan kalimat “Jika aku …” Tapi selalu saja
ini dianggap sebagai hal konyol yang tak seharusnya aku lakukan.
Kalau aku boleh mengutarakan sebuah pertanyaan,
“Apakah kamu selalu
bahagia dengan kehidupanmu? Apakah kamu tidak pernah merasakan lelah? Apakah
kamu tidak pernah berpikir untuk berhenti?”.
Jika kamu menjawab “TIDAK
PERNAH”. Selamat kamu benar-benar hebat. Namun, maaf aku tidak bisa benar-benar sekuat dirimu J
Mental satu orang dan orang lainnya itu tidak sama.
Terkadang ada orang yang begitu kuat meski ujaran kebencian terus datang. Ada
juga orang yang langsung tumbang meski hanya dilirik dengan sinis.
Ketika kamu mengusik mentalku, mungkin aku hanya
membalasmu dengan senyuman dan aku meyembunyikan kehancuranku dengan masa
bodoh. Namun, hati-hati pasti ada orang yang meresponsnya dengan menghajarmu
sampai babak belur atau dendam sampai mati.
Komentar
Posting Komentar