Derita mantan Anak Broken Home < CerBung>

 Derita Mantan Anak Broken Home

aku pernah merasakan keadaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya 

iya, masa kehancuran dalam keluargaku. 

apa yang kalian pikirkan ketika anak yang masih usia 8 tahun mengalami masalah keluarga dan mendapatkan imbas atas masalah tersebut?.

yang saya rasakan adalah kecewa, sedih, bahkan aku malu menampakkan diriku kepada orang lain dan teman-temanku, sebab keadaanku yang sungguh mengenaskan. apalagi kabar kehancuran keluargaku sudah beredar hingga kemana-mana. 

mereka banyak yang berkomentar "kasihan ya anaknya, padahal anak-anaknya masih kecil". setiap kali aku berada mereka mengatakan hal itu kepadaku. hingga aku bengi kata-kata itu, aku bukan anak kecil yang harus di kasihani, sebaiknya mereka memikirkan masalahnya sendiri daripada memikirkan masalah keluargaku. 

kala iyu yang aku pikirkan adalah aku akan ikut siapa?, aku akan hidup dengan siapa?, siapa yang akan aku lihat setiap kali aku membuka mata dari tidurku?, sebab ketika masih sama-sama dulu aku melihat ayah dan ibuku ada di sampingku. 

sejak saat itu juga, entah seberapa sayang Tuhan kepada keluargaku?. 

keluargaku bangkrut dan kekayaaannya habis satu bersatu dijual untuk melunasi hutang sana-sini, keadaan keluargaku semakin kalut. ayah ibuku hampir setiap hari bertengkar, nenak hanya bisa menangis dan adik-adikku yang masih kecil hanya bisa plonga-plongo melihat rumah yang serba riuh dengan teriakan dan tangisan sana sini. 

aku hanya bisa masuk kamar, aku mengintip dari balik pintu. aku melihat rumahku seperti rumah setan, menyeramkan. kadang aku berpikir bagaimana caranya kabur dari rumah dan tidak mendengar ocehan dan tangisan mereka. 

aku semakin jenuh mendengar semuanya yang hampir terjadi setiap pagi, aku mencoba tidak keluar kamar dan tidak mau masuk sekolah. aku ingin menghindari dunia luar. ada suara banting-membanting barang, rasanya aku ingin tetap di kamar dan kamar aku kunci sampai tidak ada orang yang bisa masuk, aku ingin mengamankan diriku sendiri, sebab kala itu tidak ada yang bisa mengamankan aku,

aku berpikir jika orangtuaku seperti itu, apakah mereka bisa melindungiku?. 

saat mereka bertengkar satu sama lain dengan nada tinggi?, aku berpikir apakah aku bisa aman diantara mereka, 

hidupku terasa terancam, aku seolah di medan pertempuran yang entah kapan waktunya giliran aku yang mati, padahal rasanya tubuhku sudah tercabik satu persatu mulai dari mentalku. 

aku merasa keadaanku tidak akan sebahagia teman-temanku, mereka mempunyai orang tua dan keluarga yang menyanyanginya sepenuh hati. aku bahkan benci melihat kebahagiaan mereka dan tanpa aku sadari aku mulai membenci temanku yang punya keluarga lengkap. 

aku pernah bertanya kepada orangtuaku setelah mereka merencanakan untuk berpisah, 

"apakah aku ini bukan anak kalian?."

aku disekolah sering mendapat pelajaran untuk menghormati orang tua, mematuhi apa yang diperintahkan orang tua dan menyanyi orangtua sebab orang tua anaknya petuah yang paling bagus yang harus aku contoh. 

menurutku orang tua tidak akan mengajarkan artinya omongan kasar dan saling adu sama lain di depan anaknya, namun jika orangtua seperti itu aku pikir mereka buka orangtuaku atau aku bukan anak mereka. 

melihat contoh yang mereka perlihatkan kepadaku, tentang pertengkaran, bicara kasar, dan mencoba membanting-banting barang, aku bertanya apakah sifat tersebut yang harus aku contoh?. 

tapi, aku mencoba menanyakan dan menjawab pertanyaanku sendiri, sebab saat itu aku tidak pervaya dengan siapapun. kedua orangtuaku dan keluargaku yang aku percaya sebelumnya saat itu aku sudah tidak percaya lagi.........

tunggu kelanjutannya di part selanjutnya terima kasih,,,,,,, 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Mentalmu dijatuhkan

Sang Putri Layu ~~ Puisi Akrostik

Ruang Penyemangat (Puisi Akrostik)