Ketika Harus Menerima Keadaan, Padahal Hati Terluka
Ketika Harus Menerima Keadaan, Padahal Hati Terluka
Separuh Nyawa
“Tuhan bolehkan aku
ngaso sebentar buat ngopi dan tidur menikmati mimpi?” dan seolah-olah Tuhan
kasih jawaban lewat kondisi kita.
Iya, kita harus menerima keadaan. Meski hati kita
sebenarnya tidak rela. Hati kita sebenarnya terluka. Hati kita sebenarnya
lelah.
Kita mau demo, tidak bisa. Kita mau membully, tidak
kuasa. Mau punya pikiran picik, takut dosa. Kalau ketahuan polisi di penjara.
Jadi, apa jalan keluarnya?
Bunuh diri?
NO
Yuks belajar berdamai dengan diri sendiri! Ajak hati kita
buat rela melepaskan apa yang kita inginkan. Merelakan dan melepaskan apa yang tidak bisa kita miliki.
Awalnya sulit memang. Perlahan pasti bisa. Ajak hati kita
intropeksi kondisi. Jangan lupa ajak hati kita mendekati Tuhan, ini yang paling
penting.
Meski hati kita sakit banget tidak masalah. Hati kita kecewa
berat, tidak masalah. Menikmati sakit hati itu, layaknya tantangan yang
menyeramkan tapi asyik.
Kayak kita haiking
alias mendaki gunung. Kita melewati jalan terjal, curam dan kiri-kanan jurang.
Menyeramkan bukan tapi asyik. Bahkan, malah kita coba lagi tantangan seperti
itu.
Hati juga seperti itu. Jalani saja, asyikin saja. Jika,
lelah istirahat. Tapi jangan putus asa. Jalan lagi sampai masalah hati bisa
tuntas.
Jika kita berlebihan menanggapi hati yang sakit. Tubuh
kita tidak akan baik-baik saja. Pikiran kita juga tidak akan baik-baik saja.
Komentar
Posting Komentar