Ketika kita dipaksa speak up, tapi tidak dihargai

 

Ketika kita Dipaksa Speak Up, Tapi Tidak Dihargai

Separuh Nyawa


Kita pasti pernah disuatu latar tempat dimana kita berbicara, namun tak ada yang menghiraukan.

Ada suatu latar juga ketika kita tidak mau bicara. Tapi dipaksa untuk berbicara. Sayangnya apa yang kita bicarakan juga tidak dipedulikan.

Semacam ada tapi tak dimanusiakan, sakit dong pasti? Namun disitu kita diharuskan terus tersenyum dan mendengarkan yang lain berbicara.

Kenapa diam saja sih, ngomong dong! Kayak kita gitu ngomong ini itu biasa”

Faktanya, bagaimana kita mau ngomong, baru mangap saja udah keselip yang lainnya. Pas kita udah ngomong, pada sibuk dengan obrolan yang lain.

“Sebenernya disini aku ngapain? Kayak patung selamat datang dan selamat tinggal doang. Waktu datang duduk diam dan pas pulang ya udah wassalam”

Kepengen banget buat pergi, tapi ya lihat kondisi. Mana mungkin langsung pergi begitu aja tanpa embel-embel pamitan. Terkadang efisiensi yang bisa kita lakukan kalau bicara sudah diabaikan adalah pura-pura sibuk sendiri, main Hp misalnya.

Nyesek nggak sih? Ya, jelaslah.

Makanya, karena pernah merasakan posisi itu ada banyak kita ngalah aja. Biarkan saja mereka bicara sampai selesai.

Tidak akan turun harga diri kita, hanya karena kita pilih diam saja mendengarkan mereka, mengamati, tersenyum kepada orang yang sedang bicara di hadapan kita.

Kita melakukan itu tujuannya supaya mereka tidak merasakan sakitnya diabaikan seperti apa yang kita rasakan. Iya, kita nggak akan pernah rugi. J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Mentalmu dijatuhkan

Sang Putri Layu ~~ Puisi Akrostik

Ruang Penyemangat (Puisi Akrostik)